LAPORAN OBSERVASI KE
LOUNDRY DONA LIMA KAUM, TANAH DATAR
Oleh
KURNIA YUSTINA
NIM 1730102015
Semester 5
PENDIDIKAN
BAHASA ARAB
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
IAIN BATUSANGKAR
2019
A.
Identitas Usaha
1.
Nama Pemilik : Lusi Madona
2.
Jenis Usaha : Loundry
3.
Nama toko :
Loundry Dona
4.
Lokasi Toko : Lima Kaum,
Batusangkar
B.
Tempat dan waktu obervasi
Penulis melakukan wawancara pada hari Kamis 12 Desember 2019 pukul
17.00
WIB. Penulis
memilih waktu sore hari karena pada saat itu pemilik mempunyai waktu luang
untuk bisa melakukan wawancara. Pada saat wawancara berlangsung pemilik sedang
dalam waktu luang dan hanya sedang mengawasi hasil kerjanya hari itu.
Lokasi loundry buk Dona berlokasi di
Batusangkar di depan akademi keperawatan Lima Kaum. Menurut pemilik yaitu buk
Dona, tempat ini sangat strategis dikarenakan disini merupakan komplek
perumahan yang kebanyakan pemilik nya adalah orang-orang kantoran, ada juga
yang guru mapun dosen yang tidak memiliki waktu luang untuk menyetrika pakaian
rumah tangganya. Menurut buk Dona, kebanyakan pelanggan yang datang untuk
menyetrika pakaiannya adalah orang-orang kantoran seperti pegawai Bank,
Dosen-dosen, Guru, dan lainnya. Sedangkan mahasiswa bisa dibilang tidak ada,
karna memang biasanya mahasiswa lebih memilih loundry yang untuk mencuci bukan
untuk setrika.
C.
Awal mula berdirinya Loundry Dona
Buk
dona menuturkan kepada penulis bahwa Loundry Dona awal berdirinya yaitu pada
tahun 2016, 3 bulan sebelum bulan puasa. Sedangkan namanya diambil dari nama
pemilik toko sendiri yaitu buk Lusi Madona. Sebelumnya toko tempat berdirinya
loundry sekarang ialah warung makan yang menyediakan nasi goreng, mie goreng,
mie rebus, soto, maupun sup yang buka dari pagi hingga sore hari.
Buk
dona membuka usaha ini dikarenakan pada tahun 2015 kebawah akademi keperawatan
di Lima Kaum ini masih ramai sehingga usaha warung makan buk Dona ini lumayan
laris oleh mahasiswa-mahasiswa yang kuliah disana. Namun pada awal tahun 2016,
jumlah mahasiswa yang kuliah di AKPER
mulai berkurang dan dan tidak ada penambahan mahasiswanya lagi pada saat
tahun ajaran baru. Oleh karena itu buk Dona pun mencari alternatif usaha lain
untuk tokonya, dan pada saat itu salah satu saudara buk Dona menyarankan untuk
membuka Loundry, namun bukan loundry untuk mencuci pakaian melainkan hanya
untuk setrikanya saja. Karena menurut buk Dona dan saudara beliau yang
menyarankan membuka loundry setrika ini bahwa mencuci baju pelanggan itu
memiliki resiko yang besar seperti baju terkena luntur, baju tertukar dengan
yang lain, dan sebagainya.
D.
Modal awal pembuatan Loundry Dona
Awal
pembuatan loundry Dona ini Buk Dona menuturkan hanya dengan bermodalkan uang
Rp. 450.000,00.- saja. Ini dikarenakan buk Dona sudah memiliki toko dan tidak
perlu membuat toko baru yang memerlukan biaya yang banyak. Uang 450.000 ini
dipergunakan buk Dona untuk membuat papan nama “Loundry Dona” dan perlengkapan
untuk setrika seperti pelicin pakaian, pewangi pakaian, dan lain sebagainya.
Tetapi,
walaupun dimulai dengan modal yang bisa terbilang kecil ini, penghasilan yang
didapatkan oleh buk Dona lumayan besar, ini berdasarkan penuturan buk Dona
kepada penulis pada Kamis 12/12/19. Buk Dona menuturkan bahwa penghasilan yang
didapatkannya perhari jauh lebih besar dibandingkan dengan penghasilannya pada
saat membuka warung makan dulu. Ini dikarenakan pada saat membuka warung makan
dulu, makanan yang dibuat buk Dona tidak hanya untuk mahasiswa ataupun
pelanggannya saja, namun juga untuk anak-anaknya yang sering bolak-balik meminta
berbagai macam makanan sehingga tidak jarang buk Dona malah rugi dalam sehari
tersebut.
E.
Hasil wawancara
Loundry Dona buka dari jam 6 pagi sampai jam 6
sore. Namun jika ada pelanggan yang ingin mengantarkan atau menjemput setrikaan
nya pada malam haripun masih diterima oleh buk Dona. Buk Dona menuturkan
sebenarnya tidak ada penetapan waktu untuk menentukan buka tutup loundry nya
dikarenakan rumah dari pemilik tersebut tepat berada disamping toko loundrynya.
Jadi jika ada yang ingin mengantarkan loundrynya pada jam 10 malam pun masih
diterima buk Dona.
Loundry yang dikelola oleh buk Dona khusus untuk setrika saja,
tidak termasuk mencuci. Dikarenakan pemilik tidak mau mengambil resiko dalam
mencuci pakaian seperti pakaian tertukar atau pakaian orang lain terkena luntur
dari pakaian yang lain. Karena dari pengalaman buk Dona bahwa loundry-loundry
yang lain sering mendapat kritikan karna baju hilang dijemuran, baju terkena
luntur, ataupun baju tertukar dengan orang lain.
Dalam menjalani setrika laundry ini, pemilik menuturkan bahwa
selama pemilik mengelola ini belum pernah ada keluhan dari pelanggan,
dikarenakan pemilik dalam menegerjakan pekerjaan nya selalu
memisahkan baju-baju dari pelanggannya, tidak menyatukan baju satu pelanggan
dengan pelanggan yang lainnya, sehingga baju-baju tersebut tidak tertukar satu
dengan yang lainnya. Begitu juga dengan kebersihan pakaian akan tetap terjaga dikarenakan buk
dona tidak mencampurkan baju pelanggan dengan yang lain.
Untuk tarif setrika, buk Dona menetapkan
setrikaan seharga 4000/kg kain. Dan biasanya buk Dona bisa menyetrika kain
hingga 40 kg perhari jika dikalikan ini bisa mencapai 160.000 atau lebih dalam
sehari. Jika bulan puasa dan hari-hari biasa pemilik biasanya menerima orderan
setrika hingga 40 kg atau lebih perhari. Namun jika musim hujan, buk Dona
biasanya hanya menerima setrikaan paling banyak 25 kg saja.
Dalam menjalankan perkerjaan, buk Dona
memiliki satu pegawai yang membantunya dalam setrika loundry ini. Pegawai ini
digaji 1.500 per kilogram yang disetrikanya. Jika setrikaan banyak, pegawai ini
bisa bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Namun jika setrikaan sedang
sedikit, biasanya pegawai nya bisa pulang lebih siang atau sebelum ashar. Pada
saat penulis wawancara ke loundry buk Dona ini pada saat itu pukul 17.00,
pegawai buk Dona sudah pulang dikarenakan hari itu ialah hari pasar di
Batusangkar, jadi buk Dona memperbolehkan pegawainya pulang lebih cepat agar
pegawainya bisa pergi belanja ke pasar terlebih dahulu.
Setiap harinya, buk Dona memasakkan sambal
untuk pegawainya untuk dibawa pulang, sehingga pegawai tersebut tidak perlu
masak sambal lagi setibanya dirumah, untuk makan siang buk Dona juga memberikan
makan siang kepada pegawainya.
Dari hasil wawancara ini penulis juga
menanyakan kepada pemilik apakah ada niat untuk membuka loundry cucian ataupun
membuka warung makan kembali, namun pemilik mengatakan tidak. Dikarenakan pemilik
kini sudah berada di zona nyamannya dalam bekerja, dan untuk itu saat ini hanya
menjalankan loundry setrikaan saja terlebih dahulu.
F.
Dokumentasi





No comments:
Post a Comment